Ekonom Sebut Masalah Covid-19 Seperti Lingkaran Setan

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra el Talattov meramalkan perkembangan ekonomi kuartal IV masih terkontraksi negatif. “Jika kita (Indef) menyaksikan kuartal IV ini masih mempunyai potensi terkontraksi negatif. Bahkan tahun depannya 2021, perkembangan ekonomi kita masih tetap mempunyai potensi alami desakan atau kontraksi,” kata Abra ke Liputan6.com, Selasa (10/11/2020).

Menurut Abra, permasalahan Covid-19 ini ibarat lingkaran setan. Itu karena saat satu bidang konsumsi rumah tangganya menurun, akan memacu pelemahan di bidang riil industri. Dengan begitu bila bidang riil turun, karena itu warga harus harus lakukan rasionalisasi. “Harus ada factor yang kembalikan atau memutar jarum jam barusan, sekarangkan kit aini transisi searah jarum jam turun semua. Karena itu harus ada membalikan arah jarum jam itu yaitu berbelanja pemerintahan,” katanya.

Berbelanja pemerintahan itu diinginkan dapat tingkatkan konsumsi warga hingga kelak keinginan pada beberapa produk industri itu bertambah, hingga industri serta investasi akan bertambah kembali, serta akan meresap lapangan pekerjaan kembali, kata Abra.

Sayang berbelanja pemerintahan itu stimulannya belum juga capai yang diinginkan yaitu baru teresap 52 %.

Bila disaksikan PDB berbelanja pemerintahan di kuartal III serta konsumsi pemerintahan cuman tumbuh 9,7 %. Menurut dia, tumbuh cukup berarti.

“Kita harap perkembangan berbelanja pemerintahan kuartal IV dapat semakin tinggi kembali hingga dapat memacu perkembangan di elemen lainnya khususnya konsumsi rumah tangga,” katanya.

Disamping itu, berkaitan perkiraan perkembangan ekonomi kuartal IV yang mempunyai agen togel terpercaya potensi tumbuh negatif untuk angkanya tidak dapat diterka, dapat bertambah tinggi dari kuartal III minusnya, atau malah semakin lebih rendah. Tetapi yang tentu itu bergantung dengan realisasi berbelanja pemerintahan serta realisasi stimulan pajak kuartal IV ini.

Kepala Tubuh Peraturan Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Nathan Kacaribu, meramalkan perkembangan perekonomian Indonesia sejauh 2020 minus 1,1 %. Sesaat untuk skenario terhebat, ekonomi nasional cuman tumbuh sebesar 0,2 %. “Perkiraan kita untuk tahun akhir 2020 ekonomi -1,1 % sampai 0,2 %. Semula jadi -1,7 % sampai -0,6 %,” tutur ia pada acara Dialogue Kita, Jumat (2/10). Menurut Febrio, perkiraan atas perkembangan ekonomi nasional tahun ini dikuasai oleh jebloknya perkembangan ekonomi semenjak kuartal I 2020. Selanjutnya, di kuartal II terkontraksi cukup dalam sejumlah 5,32 %.

“Sebab kita pergi dari lowbase di 2020, satu, jadi tentu ada efeknya ke perkembangan kita,” jelas Bos BKF itu.

Selanjutnya, ia menyebutkan salah satu bidang yang dapat tumbuh positif serta sanggup jadi bantalan ekonomi nasional sampai tahun akhir adalah pengeluaran pemerintahan sendiri. Karena itu, berbelanja pemerintahan harus dipacu pada tersisa dua kuartal tahun ini serta tahun seterusnya.

“Jadi, benar-benar pemerintahan masih meneruskan peraturan countercyclical pada 2021. Masih akan dikerjakan berbelanja pemerintahan,” sambungnya.

Selanjutnya, pemerintahan lagi lakukan penilaian pada share program ekonomi nasional (PEN) yang tidak berjalan. Terutamanya program yang dipandang susah untuk diterapkan selekasnya.

” Seperti, KUR banyak tidak dipakai untuk batas 2020. Keinginannya dari sekian waktu kita lagi penilaian, apa kebijakan yang dipersiapkan ini inline dengan keperluan usaha serta ekonomi keseluruhnya,” pungkasnya

Presiden Jokowi minta Menteri Koordinator Sektor Kemaritiman serta Investasi Luhut Binsar Panjaitan jaga perkembangan investasi supaya tidak minus di atas 5 %. Ini untuk mengangkat perkembangan perekonomian Indonesia di kuartal III 2020.